Untukmu Ayahku Tersayang

21 Oktober 2010 shineyworld
Tag:

Selama hampir dua
dasawarsa hidupku
berlalu, saat ini aku baru
sadar betapa
beruntungnya aku
memilikinya, seorang pria
tua yang kupanggil ayah.
Sebagian jelas, sebagian
samar-samar; memoriku
bersamanya mulai dari
aku kecil hingga kini
beranjak dewasa.
Dulu, saat raganya masih
gagah dan kuat, aku
sering digendongnya. Aku
senang bergelayut di
pundaknya. Senyumnya
yang khas selalu
menemaniku bermain.
Ayahku memang bukan
orang yang sangat berada.
Tapi ia selalu bisa
memenuhi semua
kebutuhan anak-anaknya.
Baginya, kami -aku dan
adikku- adalah hartanya
yang paling berharga. Apa
yang kami inginkan,
selama dia mampu, maka
ayah akan memenuhinya.
Walaupun tak jarang aku
merasa kesal, karena
adikku yang lebih sering
dituruti keinginannya.
Aku masih bisa mengingat,
hari dimana ia
menggenggam tanganku,
membimbingku dan
membanggakan diriku
sambil berkata, “Inilah
putri kecilku” saat aku
mulai mengenal dunia
sekolah. Dia juga yang
mengajarkanku
pendidikan agama sejak
kecil.
Sudah berkali-kali ayahku
nyaris kehilangan
nyawanya. Aku ingat dulu
ketika ayah terjebak
dalam bis di antara
kerumunan orang yang
berdemo. Bis yang
ditumpanginya dirusak
dan dilempari batu.
Serpihan kaca dan kerikil
bersarang di bawah
matanya. Menyebabkan
beberapa jahitan di
wajahnya yang
membuatku dulu takut
untuk melihat wajah
ayahku.
Dan aku masih ingat, saat
ayahku jatuh dari motor
saat hendak menjemputku
yang baru pulang sekolah.
Aku yang memaksanya,
padahal saat itu ayahku
sedang tidur siang.
Menyebabkan kaki ayahku
retak, dan hingga kini
membuatnya sedikit
tertatih-tatih saat
berjalan, apalagi jika
berlari.
Ayahku, meski terkadang
di mata kami, anak-
anaknya, adalah sosok
yang menyeramkan saat
marah, namun aku sadar
ada jiwa yang selembut
kapas di balik wajah
sangarnya itu. Ayahku
bukan tipe ayah yang
kaku. Terkadang aku geli
sendiri melihat
kejayusannya. Ayahku bisa
jadi orang yang konyol,
namun bisa juga jadi sosok
yang tegas.
Ah, sungguh banyak
pengorbanan yang telah
ayahku berikan. Dan aku
tahu aku tidak mungkin
bisa membayar lunas
semua pengorbanan
ayahku. Yang kutahu, aku
cuma bisa membayarnya
dengan membuatnya
tersenyum bangga. Semua
prestasi yang kuraih sejak
kecil, aku berusaha
mendapatkannya demi
melihat senyuman ayahku.
Sekarang, di usianya yang
hampir menginjak separuh
abad, ayahku mulai
menunjukkan
ketakberdayaannya
menghadapi penuaan yang
melanda raganya. Keriput
dan uban mulai jadi
sahabatnya, badannya
semakin lemah dan mudah
sekali sakit. Tapi demi
menghidupi keluarganya,
naik turun gunung bukan
masalah baginya.
Dan aku tahu, ayahku kini
mulai khawatir. Putri
kecilnya kini beranjak
dewasa. Tak sampai 10
tahun lagi putrinya akan
menjadi tanggung jawab
pria lain yang lebih muda
darinya. Tak akan ada lagi
aku yang dengan manja
bergelayut di pundaknya.
Tak akan ada lagi putri
kecilnya yang bisa dia
gendong saat menangis
karena terjatuh, atau saat
merasa lelah berjalan.
Atau hanya untuk sekedar
meninabobokan saat
waktu tidur tiba.
Tapi ayah, kau harus tahu.
Meskipun begitu, kau
adalah laki-laki pertama
yang aku kenal dalam
hidupku. Suaramu lah
yang pertama kudengar di
dunia saat kau adzan di
telingaku ketika aku lahir.
Jadi jangan khawatir
ayahku tersayang. Aku
tetap putri kecilmu, meski
aku kini hidup dalam
tubuh dewasa. Aku masih
ingin tetap bermanja-
manja padamu, walaupun
aku tak kan bisa
mengekspresikan rasa
sayangku segamblang
dahulu. Aku tak akan
pergi meninggalkanmu
sendirian di masa tuamu,
meski nanti akan ada pria
lain yang memohon
restumu memboyongku ke
tempat lain.
Terimakasih ayah, sudah
menemaniku selama
hampir dua dekade ini
dalam suka dan duka.
Terimakasih, telah
bersusah payah mengurus
kami, anak-anakmu,
dengan penuh kesabaran
dan keikhlasan.
Ya Rabb, aku sadar aku ini
belum bisa berbakti
sepenuhnya pada
orangtuaku. Aku mohon,
jaga ayahku di masa
tuanya seperti ia
menjagaku di masa
kecilku dulu.
Limpahkanlah rizki-Mu
padanya, seperti ia
melimpahkan kasih
sayangnya padaku.
Ampuni dosanya,
permudah segala urusan
dunia dan akhiratnya.
Berikan ia kekuatan untuk
bertahan di dunia yang
keras ini. Amin

Entry Filed under: Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Laman

Kategori

Kalender

Oktober 2010
S S R K J S M
« Sep   Mar »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Most Recent Posts

 
%d blogger menyukai ini: